Makalah MSI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar belakang 1
B. Rumusan Pembahasan 1

BAB II METODOLOGI 2
A. Pengertian Metodologi 2
B. Studi Islam 2
C. Metode Memahami Islam 3
1. Metode Filosofis 5
2. Metode Historis 5
3. Metode Teologi 5

BAB III KEGUNAAN
MEMPELAJARI METODOLOGI STUDI ISLAM 6
a. Strategi Islamisasi Ilmu Pengetahuan 6
b. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Melalui Pendidikan Islam 6

BAB IV METODOLOGI STUDI ISLAM DAN HUBUNGAN DENGAN
ILMU LAINNYA 8
Karakteristi Ajaran Islam 8
A. Dalam Bidang Agama 8
B. Dalam Bidang Ibadah 8
C. Dalam Bidang Akidah 9
D. Dalam Bidang Ilmu dan Kebudayaan 9
E. Dalam Bidang Pendidikan 9
F. Dalam Bidang Sosial 9
G. Dalam Bidang Kehidupan Ekonomi 10
H. Dalam Bidang Kesehatan 10
I. Dalam Bidang Politik 10
J. Dalam Bidang Pekerjaan 11
K. Islam Sebagai Disiplin Ilmu 11

KESIMPULAN 12

BAB V PENUTUP 13
DAFTAR PUSTAKA 13

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam merupakan agama yang sangat komplek. Sehingga dalam memahaminya pun dibutuhkan cara yang tepat agar dapat tercapai suatu pemahaman yang utuh tentang Islam. Di Indonesia sejak Islam masuk pertama kali sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang berbeda mengenai Islam. Sehingga dibutuhkanlah penguasaan tentang cara-cara yang digunakan dalam memahami Islam.

Maka, dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas mengenai metodologi serta beberapa hal yang berkaitan untuk memahami Isalam di Indonesia.

B. Rumusan Pembahasan

Dari latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Apakah Metodologi ?
2. Kegunaan mempelajarinya ?
3. Metode Studi Islam ?
4. Hubungan Metodologi Study Islam dengan Ilmu-ilmu lainnya ?

BAB II
METODOLOGI

A. Pengertian Metodologi

Metodologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu metodos berarti “cara atau jalan” dan logos yang berarti ilmu. Dari kedua suku kata itu, metodologi berarti ilmu tentang jalan atau cara, untuk memudahkan pemahaman tentang Metodologi, terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian Metode. Metode Study Islam dapat di definisikan sebagai urutan kerja yang sistematis, terencana, dan merupakan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Lalu, yang dimaksud metodologi sendiri berarti ilmu tentang cara-cara yang digunakan manusia untuk sampai pada tujuannya. Metodologi adalah cara-cara yang digunakan manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Metodologi disebut pula sebagai science of methods yaitu ilmu yang membicarakan cara, jalan, atau petunjuk praktis dalam penelitian, sehingga metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode, yang pada intinya metode studi Islam mengarah pada cara pandang manusian untuk melihat islam dari berbagai aspek.

B. Studi Islam

Masih terdapat perdebatan di kalangan para ahli apakah studi islam dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat-sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pembahasan disekitar masalah ini banyak dikemukakan oleh para pemikir Islam belakangan ini, misalnya jika penyelenggaraan dan penyampaian studi Islam hanya mendengarkan dakwah keagamaan di dalam kelas lalu apa bedanya dengan kegiatan pengajian dan dakwah yang sudah ramai deselenggarakan di luar bangku kuliah? Sehingga, pangkal tolak kesulitan pengembangan wilayah kajian studi Islam berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan anatar yang normativitas dan historisitas. Pada dataran normativitas kelihatan Islam kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historisitas tampaknya tidaklah salah. Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa dari segi normative sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadist, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya, padigma ilmu pengetahuan, yaitu pradigma analitis, kritis, metodologis, histories, dan empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak, apologi, dan subjektif, sedangkan jika dilihat dari segi histories, yakni Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau Islamic Studies.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normative, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan dengan urusan akidah dan muamalah sedangkan ketika Islam dilihat dri sudut histories atau sebagaimana yang tampak dalam Islam tampila sebagai sebuah disiplin ilmu ( Islamic studies )
Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan ke Islaman mayarakat inter dan antar agama. Adapun perubahan yang diharapkan adalah formalisme kepahaman menjadi sebuah substantive keagamaan dan sikap enklusifisme menjadi sikap universalisme.
Secara garis besar, tujuan studi Islam adalah mempelajari secara mendalam tentang hakikat Islam, sebagaimana posisinya dengan agama lain, dan bagaimana hubungannya dengan dinamika perkembangan yang terus berlangsung.
Agama Islam diturunkan oleh Allah SWT SWT dengan temuan untuk membimbing, mengarahkan, dan menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat manusia. Agama-agama dan budaya yang pada awalnya hanyaberdasarkan kepada daya nalar dan tidak sedikit yang mengarah pada penyimpangan, diarahkan oleh Islam menjadi agama monoteisme yang benar. Namun bukan berarti agama Islam tidak sesuai dengan akal budi. Justru dalam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk mendayagunakan akal budinya secara maksimal, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu Allah SWT.
Studi Islam mempelajari secara mendalam terhadap sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi dan dinamis serta aktualisasinya sepanjang sejarah. Studi ini berdasar kepada asumsi bahwa agama Islam adalah agama samawi terakhir yang membawa ajaran yang bersifat final, dan mampu memecahkan persoalan kehidupan manusia, menjawab tantangan, dan senantiasa actual sepanjang masa. Namun demikian, aktualitas ajaran ini sering harus berhadapan dengan beraneka ragam permasalahan dan tantangan yang tidak kecil dan ringan. Pada kondisi semacam ini, studi Islam berusahan untuk memberikan kontribusinya dalam menjawab aneka persoalan dan tantangan yang ada.
Studi Islam mempelajari secara mendalam terhadap pokok isi ajaran Islam yang asli, dan bagaimana operasionalisasi dalam pertumbuhan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarah.
Studi Islam mempelajari secara mendalam terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan bagaimana perwujudannya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini.

C. Metode Memahami Islam

Studi Islam tidak dapat dilakukan apabila Islam tidak dipahami secara menyeluruh. Memahami Islam secara menyeluruh sangat penting walaupun tidak mendetail. Untuk itu, diperlukan pedoman-pedoman yang dapat dijadikan sandaran, patokan atau petunjuk dalam memahami Islam secara baik dan benar. Pedoman-pedoman tersebut mencakup:
Pertama, Islam harus dipelajari dari sembernya yang asli, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, kemudian dihubungkan dengan kenyataan histori, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Kekeliruan dalam memahami Islam dapat terjadi karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan as- Sunnahh, atau melalui pengenalan dari kitab-kitab fiqih dan tasawuf. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme yang telah tercampuri oleh hal-hal yang tidak islami.
Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak secara parsial atau terpisah-pisah. Artinya Islam dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang utuh tidak secara sebagian saja. Sebab dengan memahami secara parsial akan menimbulakan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan atau literature yang ditulis oleh para ulama besar atau para sarjana yang benar-benar memiliki pemahaman Islam yang baik. Berkaitan dengan yang ketiga ini, timbul permasalahan dalam literature yang ditulis oleh kaum orientalis. Karena bagi mereka, Islam hanya sekedar dipahami yang kemudian dicari-cari kelemahannya. Berkenaan dengan hal tersebut, seseorang yang mempelajari Islam hendaklah bersikap kritis, selektif, dan penuh kehati-hatian serta telah kuat dalam memahami dan menjalankan dasar-dasar keislamannya.
Keempat, kesalahan sementara orang mempelajari Islam adalah dengan jalan mempelajari kenyataan umat Islam sendiri, bukan agamanya. Sikap konservatif sebagian golongan Islam, keawaman, kebodohan, dan keterbelakangan itulah yang dinilai sebagai Islam. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, Islam mengajarkan kesatuan dan persatuan, kebersamaan, saling menolong, dan saling mengasihi.
Uraian singkat mengenai metode memahami yang pada intinya Islam harus dilihat dari berbagai dimensi.
Apabila Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja, maka yang akan telihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang sebenarnya bersegi banyak. Sehingga mengakibatkan kesulitan dalam pemahaman secara keseluruhan. Buktinya ialah Al-Qur’an. Kitab ini memiliki banyak dimensi. Satu dimensi misalnya, mengandung aspek-aspek linguistic dan sastra. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan. Al-Qur’an mengajak kita memahami Islam secara komprehensif. Berbagai aspek yang ada dalam Al-Qur’an jika dipahami secara keseluruhan akan menghasilkan pemahaman Islam yang menyeluruh.
Ali Syari’ati lebih lanjut menyatakan, ada berbagai cara dalam memahami Islam melalui metode perbandingan, yaitu:
1. Mengenal Allah SWT dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain
2. Mempelajari kitab Al-Qur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab ajaran agama lainnya
3. Mempelajari kepribadian Rasulullah dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam sejarah.
4. Mempelajari tokoh-tokoh Islam tekemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran lain.
Selain menggunakan pendekatan perbandingan, ada cara lain dalam memahami Islam, yaitu dengan menggunakan pendekatan aliran. Pemahaman dengan pendekatan aliran menitik beratkan pada pemahaman Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia perseorangan maupun masyarakat.
Menurut Mukti Ali, terdapat metode lain dalam memahami Islam yaitu metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif, berisi klasifikasi topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Terdapat lima aspek atau ciri dari agama Islam, yaitu 1) aspek ketuhanan, 2) aspek kenabian, 3) aspek kitab suci, 4) aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Dari uraian-uraian di atas, secara garis besar ada dua macam metode untuk memahami Islam. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengan cara demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang objektif dan utuh. Kedua, metode sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif, kritis, dengan metode teologis normative. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang tampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis, sedangkan metode teologis normative digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normative ini seseorang memulainya dengan memahami Islam sebagai agama yang mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimana norma ajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologis normative yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militant pada Islam, sedangkan dengan metode ilmiah yang tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.
Sedangkan menurut Ali Anwar Yusuf dalam bukunya Studi Agama Islam, terdapat tiga metode dalam memahami agama Islam , yaitu:

1. Metode Filosofis

Filsafat adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya sejauh jangkauan kemampuan akal manusia, kemudian berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan meneliti akar permasalahannya. Memahami Islam melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan tidak memiliki makna apa-apa atau kosong tanpa arti. Namun bukan pula menafikan atau menyepelekan bentuk ibadah formal, tetapi ketika dia melaksanakan ibadah formal disertai dengan penjiwaan dan penghayatan terhadap maksud dan tujuan melaksanakan ibadah tersebut.

2. Metode Historis

Metode historis ini sangat diperlukan untuk memahami Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan sangat berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Melalui metode sejarah, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya dan hubungannya dengan terjadinya suatu peristiwa.

3. Metode Teologi

Metode teologi dalam memahami Islam dapat diartikan sebagai upaya memahami Islam dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari satu keyakinan. Bentuk metode ini selanjutnya berkaitan dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang Islam dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Allah yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.

BAB III
KEGUNAAN MEMPELAJARI METODOLOGI STUDI ISLAM

a. Strategi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu gagasan yang paling canggih, amat komprehensif dan mendalam yang ditentukan dalam al-Qur`an ialah konsep ilmu. Pentingnya konsep ini terungkap dalam kenyataan bahwa al-Qur`an menyebut-nyebut kata akat dan kata turunannya sekitar 800 kali. Dalam sejarah peradaban muslim, konsep ilmu secara mendalam meresap kedalam seluruh lapisan masyarakat dan mengungkapkan dirinya dalam semua upaya intelektual. Tidak hanya ada peradaban lain dalam sejarah yang mamiliki konsep ilmu penngetahuan, dengan semangat nyang demikian tinggi dan mengejarnya dengan amat tekun seperti itu. Pertama,ilmu pengetahuan tersebut akan terus berkembang dinamis sesuai dengan tuntutan zaman, karena hanya ajaran Islamlah yang paling mementingkan ajaran ilmu pengetahuan. Kedua,masyarakat modern akan mendapatkan momentum kejayaan dan kesejahteraan yang seimbang, antara kesejahteraan yang bersifat material dengan kesejahteraan yang bersifat spiritual, sebagaimana hal ini pernah dialami umat Islam di zaman klasik. Ketiga,masyarakat modern akan merasakan tumbuh menjadi suatu kekuatan yang antara satu dan yang lainya saling membantu melalui ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini terjadi karena ilmu yang dimilikinya diarahkan untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Keempat, Islamisasi ilmu pengetahuan akan berdampak pada timbulnya konsep pendidikan yang ingrated antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan cara demikian dikhotomi kedua ilmu tersebut akan hilang dengan sendirinya.

b. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Melalui Pendidikan Islam

Dewasa ini, dunia Islam dihadapkan kepada suatu tantangan yang belum pernah dialami generasi terdahulu,yaitu pengaruh kebudayaan Barat yang hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan. Pengaruh itu, wujudnya bukan sekadar produk tekhnologi, yang dalam batas tertentu memang bermanfaat; tetapi juga dibidang tata fikir yang sesungguhnya amat berbahaya. Terutama, pengeruh fikiran Barat ini merembes kedunia Islam melalui transformasi ilmu. Melalui “pasar ilmu”, maka terjadilah pencampur adukan konsep, bahkan juga cara berfikir dikalangan ilmuan.

Karena kedudukan kaum musilimin berada difihak yang lamah, maka transformasi pengaruh tersebut menjadi berat sebelah. Intinya, segala sesuatu yang datang dari Barat dianggaplah lebih baik, sehingga berbondong-bondong orang memakai dan menirunya. Sedemikian takut dan kagumnya bangsa Timur (temasuk kaum muslimin) terhadap apa saja yang memakai merk Barat, mereka campakkan milik sendiri karena dianggap jelek, walaupun terkadang tanpa pertimbangan yang matang. Peniruan secara besar-besaran semacam ini, juga berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sering ditemui, ilmuan kita sekarang luar biasa perannya dalam “membaratkan” masyarakat dan bangsanya sendiri, Bahkan, ilmuan yang berpredikat muslimpun tidak ketinggalan mengikuti jejaknya. Terbukti , misalnya dalam pemakaian konsep-konsep ilmiah. Peristilahan dari Barat dicocok-cocokkan untuk melambangkan ajaran Islam, sebaliknya istilah yang sebenarnya khas Islam dipaksakan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang difahami orang Barat. Akibatnya , tentu saja umat Islam sendiri secara keseluruhan semakin jauh dari “bahasa’ agamanya.

Manyadari keadaan tersebut, bangkitlah sekelompok intelektual muslim untuk mencari jalan keluarnya. Khusus dalam segi ilmu, upaya itu diawali dari dalam, yaitu dengan manyusun klasifikasi ilmu Islam seperti yang juga telah dilakukan ulama terdahulu. Menurut Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, ilmu sebagai dimaksud terbagi menjadi dua : berian Allah dan capaian manusia. Yang telah diberikan oleh Allah adalah ilmu-ilmu agama, dan ini harus dipelajari setiap muslim, mengingat mutlak pentinganya untuk bimbingan hidup. Sedangkan ilmu-ilmu alam dan teknik, wajib dikuasai oleh sebagian umat Islam saja, jadi hukumnya fardhu kifayah.

Untuk ilmu agama Islam, perinciannya adalah sebagai berikut : al-Qur`an, al-Sunnah, al-Syari`ah, al-Tauhid, al- Tashawuf, dan ilmu-ilmu linguistik Islam. Sedangkan kelompok kedua, meliputi ilmu-ilmu rasional, intelektual dan filosofis, yang tercakup didalamnya : ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu terapan dan ilmu-ilmu tekhnologi, dengan adanya pembagian seperti ini, akan mempermudah upaya untuk mengkontrol ilmu-ilmu tersebut supaya jangan sampai terjadi proses deislamisasi oleh akibat pengaruh Barat sebagaimana terlihat diatas.

Langkah itupun belum cukup. Masih diusahakan, agar ilmu-ilmu yang telah diklasifikasikan secara jelas tersebut, dalam praktiknya dapat berkembang dipangkuan Islam sendiri. Karena walaupun sudah diadakan klasifikasi, jika dibiarkan mandeg tak berkembang, jadinya sama saja seperti tidak ada usaha. Sebaliknya, dengan upaya pengembangan lebih lanjut, sekaligus akan berfungsi sebagai daya tangkal yang aktif untuk menolak satiap tantangan yang bisa mengakibatkan kerusakan. Cara pemeliharaan dan pengambangan ilmu-ilmu Islam di pangkuan kaum muslimin sendiri inilah, yang dimaksud dengan” Islamisasi ilmu”.

Sebagai usaha berencana, gagasan Islamiasasi ilmu hanya mungkin terlaksan dengan baik, apabila tesadia suatu sarana atau wadah yang bersifat permanen. Sarana atau wadah itu, tidak lain adalah lembaga pendidikan, khususnya tingkat perguruan tinggi, baik dengan istilah institut maupun Universitas. Ini bisa difahami, karena lambaga pendidikan tinggi memiliki semboyan kerja “pendidikan”, penelitian dan pengabdian.” Di sana terdapat potensi manusiawi (dosen, karyawan dan mahasiswa) yang pada umumnya memiliki idealisme dalam bidang keilmuan. Disamping itu, sifat universitas perguruan tinggi, memungkinkan diselenggarakannya pengembangan ilmu-ilmu Islam yang beraneka macam wujud kesatuan.

BAB IV
METODOLOGI STUDI ISLAM
DAN HUBUNGAN DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA

Karakteristi Ajaran Islam
Selama ini kita sudah mengenal Islam, tetapi Islam dalam potret yang bagaimanakah yang kita kenal itu, tampaknya masih merupakan suatu persoalan yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Misalnya mengenal Islam dalam potret yang ditampilkan Iqbal dengan nuansa filosofis dan sufistiknya. Islam yang ditampilkan Fazlur Rahman bernuansa historis dan filosofis. Demikian juga, Islam yang ditampilkan pemikir-pemikir dari iran seperti Ali Syari’ati, Sayyed Hussein Nasr, Murthada Munthahhari.
Pemikiran para ilmuan Muslim dengan mempergunakan berbagai pendekatan tersebut di atas kiranya dapat digunakan sebagai bahan untuk mengenal karakteristik ajaran Islam, tidak mencoba memperdebatkannya antara satu dan lainnya, melainkan lebih mencari sisi-sisi persamaannya untuk kemaslahatan umat umumnya dan untuk keperluan studi Islam pada khususnya.

A. Dalam Bidang Agama
Melalui karyanya berjudul Islam Doktrin dan Peradaban, Nurcholis Madjid banyak berbicara karakteristik ajaran Islam dalam bidang agama. Menurutnya, bahwa dalam bidang agama Islam mengakui adanya pluralisme. Pluralisme menurut Nurcholis Madjid adalah aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.
Karakteristik agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian pada Tuhan.

B. Dalam Bidang Ibadah
Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam bidang ibadah. Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah Swt, karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid.
Visi Islam tentang ibadah merupakan sifat, jiwa, dan misi ajaran Islam itu sendiri yang sejalan dengan tugas penciptaan manusia, sebagai makhluk yang hanya diperintahkan agar beribadah kepada-Nya.

C. Bidang Akidah
Dalam Kitab Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengartikan akidah menurut bahasa adalah menghubungkan dua sudut sehingga bertemu dan bersambung secara kokoh. Ikatan tersebut berbeda dengan terjemahan kata ribath yang artinya juga ikatan tetapi ikatan yang mudah dibuka, karena akan mengandung unsur yang membahayakan.
Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui bidang akidah ini adalah bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya.

D. Bidang Ilmu dan Kebudayaan
Karakteristik Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif. Islam adalah paradigma terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban duni. Dalam sejarah kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani-Romawi di Barat dan peradaban-peradaban Persia, Indi dan Cina di Timur.
Karakteristik Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan dapat dilihat dari 5 ayat pertama surat Al-Alaq yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw. Pada ayat tersebut terdapat kata iqra’ yang diulang sebanyak dua kali. Kata tersebut menurut A.Baiquni, selain berarti membaca dalam arti biasa, juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendiskripsikan, menganalisis dan penyimpulan secara induktif.

E. Bidang Pendidikan
Islam memaandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang (education for all), laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat (long life education).

F. Bidang Sosial
Ajaran Islam dalam bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol karena seluruh bidang ajaran Islam sebagaimana telah disebutkan di atas pada akhirnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia.
Menurut penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat, Islam ternyata agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Islam ternyata banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual.

G. Dalam Bidang Kehidupan Ekonomi
Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dipahami dari konsepsinya dalam bidang kehidupan. Islam memandang bahwa kehidupan yang harus dilakukan manusia adalah hidup yang seimbang dan tidak terpisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Urusan dunia dikejar dalam rangka mengejar kehidupan akhirat dan kehidupan akhirat dicapai dengan dunia. Kita membaca hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Mubarak yang artinya : Bukanlah termasuk orang yang baik di antara kamu adalah orang yang meninggalkan dunia karena mengejar kehidupan akhirat, dan orang yang meninggalkan akhirat karena mengejar kehidupan dunia. Orang yang baik adalah orang yang meraih keduanya secara seimbang, karena dunia adalah alat menuju akhirat, dan jangan dibalik yakni akhirat dikorbankan untuk urusan dunia.

H. Dalam Bidang Kesehatan
Ajaran Islam tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan daripada penyembuhan. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan banyak petunjuk kitab suci dan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang pada dasarnya mengerah pada upaya pencegahan diantaranya. Surat Al-Baqarah , 2:222) yang artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri. Selain itu Surat Al-Mudatsir 74:4-5) yang artinya : Dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala macam kekotoran.

I. Dalam Bidang Politik
Dalam Alquran Surat An-Nisa’ ayat 156 terdapat perintah menaati ulil amri yang terjemahannya termasuk penguasa di bidang politik, pemerintahan dan negara. Islam menghendaki suatu ketaatan kritis yaitu ketaatan yang didasarkan pada tolak ukur kebenaran dari Tuhan. Jika pemimpin tersebut berpegang teguh pada tuntutan Allah dan rasul-Nya maka wajib ditaati. Sebaliknya, jika pemimpin tersebut bertentangan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya, boleh dikritik atau diberi saran agar kembali ke jalan yang benar dengan cara-cara yang persuasif. Dan jika cara tersebut juga tidak dihiraukan oleh pemimpin tersebut, boleh saja untuk tidak dipatuhi.

J. Dalam Bidang Pekerjaan
Islam memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah Swt. Atas dasar ini maka kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian terhadap Allah Swt, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.
Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, Islam memandang kerja yang dilakukan adalah kerja profesional, yaitu kerja yang didukung ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan dan sebagainya.

K. Islam Sebagai Disiplin Ilmu
Islam juga telah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman. Menurut peratutan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985, bahwa yang termasuk disiplin ilmu keislaman adalah Alquran/Tafsir, Hadis/Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Filsafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fiqih), Sejarah dan Kebudayaan Islam serat Pendidikan Islam.
Islam sebenarnya mempunyai aspek teologi, aspek ibadah, aspek moral, aspek mistisisme, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek kebudayaan dan sebagainya.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
2. Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam.
3. Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya menyebabkan Islam dipahami sesuai dasar keyakinan masyarakatnya.
4. Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat inter dan antar agama.
5. Dalam memahami Islam dapat digunakan beberapa metode, di antaranya metode filosofis, historis, dan teologis.
Berawal dari sebuah pandangan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat ini telah terkontaminasi pemikiran barat sekuler dan cenderung ateistik yang berakibat hilangnya nilai-nilai religiusitas dan aspek kesakralannya. Di sisi lain, keilmuan Islam yang dipandang bersentuhan dengan nilai-nilai teologis, terlalu berorientasi pada religiusitas dan spiritualitas tanpa memperdulikan betapa pentingnya ilmu-ilmu umum yang dianggap sekuler. Menyebabkan munculnya sebuah gagasan untuk mempertemukan kelebihan-kelebihan diantara keduanya sehingga ilmu yang dihasilkan bersifat religius dan bernafaskan tauhid, gagasan ini kemudian dikenal dengan istilah “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”.
Sedangkan manfaat yang kita dapat rasakan dari Islamisasi Ilmu Pengetahuan antara lain:
1. Setidaknya kita selaku Umat Islam tidak menjadi kafir dan kehilangan arah dalam hal keimanan dalam melihat berbagai fenomena ilmu pengetahuan.
2. Kita sebagai umat yang percaya kepada Wahyu Allah yang memberikan landasan berbagai ilmu sehingga tidak terjadi dikotomi dalam ilmu pengetahuan.
3. Kita sebagai hamba Allah akan semakin dekat kepada-Nya.

BAB V
PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami sampaiakan kurang lebihnya mohon dimaafkan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, jika ada kesalahan mohon di ingatkan dan dibenarkan, sebagai perbaikan kami ke depan. Semoga apa yang tertera dalam makalah ini dapat membawa manfaat untuk kita semua dan bisa menambah wawasan kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yatimin. 2006. Studi Ilmu Kontemporer. Jakarta: Amzah
Hakim, Tatang Abdul dan Jaih Mubarok. 2009. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Teras
Nata, Abuddin. 2009. Metodologi Studi Islam. Ed. Revisi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Yusuf, Ali Anwar. 2003. Studi Agama Islam untuk Perguruan Tinggi UmumI. Bandung: CV Pustaka Setia
Bawani,M.Imam, Segi-segi Pendidikan Islam, 1987, Al-Ikhlas : Surabaya
Hashim, Rosnani, Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah, Perkembangan dan Arah Tujuan, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (INSIST: Jakarta, Thn II No.6/ Juli-September 2005)
http://drmiftahulhudauin.multiply.com/journal/item/13(online tanggal 30-09-2010
Jam 10.15)
Khudori Soleh,A, Wacana Baru Filsafat Islam,2004, Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Nata, Abuddin,Kapita Selekta Pendidikan Islam, 2003, Angkasa : Bandung
Metodologi Studi Islam,1998, Rajawali Pers : Jakarta
Ummi, Islamisasi Sains Perspektif UIN Malang, Edisi 22. Th. 2005 dalam Inovasi: Majalah Mahasiswa UIN Malang: Malang

DIMENSI-DIMENSI ISLAM

DIMENSI-DIMENSI ISLAM

Syari’ ah

Syari’at bisa disebut syir’ah artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “sya ra’a fiil maa’I” artinya dating ke sumber air mengalir atau dating pada syari’ah. Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “ syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman :

“Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peratuan (syari’at) dan jalan yang terang.”[QS. Al-Maidah(5)

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikut hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.”[QS.Al-Maidah (5)

“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42)

Sedangkang arti syari’at, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah SWT, melalui rasul-rasul-Nya, untuk manusia agar mereka keluar dari kegelapan ke alam yang terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus. Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi frase Syari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu). Istilah bentukan ini berarti, hukum atau peraturan yang diturunkan Allah SWT. Untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW, baik berupa Al Qur’an maupun Sunah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.

Terkadang syari’ah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian Fiqh Islam. Jadi , maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul ‘aam mi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus)

B. Pembagian Syari’at Islam

Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Untuk segenap manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan yang berhubungan dengan dasar- dasar keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benar-benar menjadi keimanan kita. Misalnya, peraturan yang berhubungan dengan Dzat dan Sifat Allah SWT. Yang harus iman kepada-Nya, iman kepada rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan iman kepada hari akhir termasuk didalamnya kenikmatan dan siksa, serta iman kepada qadar baik dan buruk. Ilmu tauhid ini dinamakan juga ilmi Aqidah atau ilmu Kalam
Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan jiwa.misalnya, segala peraturan yang mengarah pada perlindungan keutamaan dan mencegah kejelekan-kejelekan, seperti kita hurus berbuat benar, harus memenuhi janji, harus amanah, dan dilarang berdusta dan berkhianat.

Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh mengandung dua bagian: pertama, ibadah, yaitu yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan ibadah tidak sah(tidak diterima) kecuali disertai dengan niat. Contoh ibadah misalnya sholat, zakat, puasa, dan haji. Kedua.  Muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan antara manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh dapat juga disebut Qanun (undang-undang).

“TARIQAH”

Penggunaan kata “ Tariqah “ dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Quranul Karim, perkataan Tariqah digunakan sebanyak 9 kali di dalam 5 surah. Pengertian tariqah di dalam Al-Quran mempunyai beberapa pengertian. Antaranya ialah:

1. Surah An-Nisa’ : 168
‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan
kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa)
mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada
mereka.’

2. Surah An-Nisa’ : 169
Melainkan jalan ke Neraka Jahannam; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah
mudah bagi Allah.’

3. Surah Thoha : 63
‘Mereka berkata : Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-
benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu
dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu
yang utama.’

4. Surah Thoha : 77
‘Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa:
Pergilah kamu dengan hambaKu (Bani Israil) di malam hari,
maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu,
kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah takut
(akan tenggelam).’

5. Surah Thoha : 104
Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika
berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka:
Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari
sahaja.’

6. Surah Al-Ahqaf : 30
‘Mereka berkata : Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah
mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan
sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya
lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang
lurus.’

7. Surah Al-Mukminin : 17
‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu
tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah
lengah terhadap ciptaan (Kami).’

8. Surah Al-Jinn : 11
‘Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang
soleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian
halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza-beza.’

9. Surah Al-Jinn : 16
‘Dan bahawasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas
jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi
minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).’
Jika diperhatikan 3 bentuk kekata tharaqa digunakan di
dalam Al-Quran.

Bentuk tersebut adalah :
Thariq – Jalan yang ditetapkan atau jalan yang dilalui oleh manusia
Thariqah – Keutamaan atau kebenaran
Tharaiq – Berbentuk jamak dari perkataan thariq dan thariqah.
SEJARAH PERKEMBANGAN TARIQAH

Banyak orang yang salah faham tentang tariqah, sehingga mereka tidak mau mengikutinya. Namun, mereka yang sudah mengikuti tariqahpun umumnya belum memahami bagaimana sebenarnya pengertian tariqah, awal mula dan sejarahnya,macam-macam serta manfaat mengikuti tarekat.

Asal-usul Tariqah Sufi
Asal-usul Tariqah (al-tariqah) Sufi dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). pada masa itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut.

Pada masa itu ilmu Tasawuf sering pula disamakan dengan ilmu Tariqah dan teori tentang maqam (peringkat kerohanian) dan hal (jamaknya ahwa, keadaan rohani). Di antara maqam penting yang ingin dicapai oleh seorang penempuh jalan tasawuf ialah mahabba atau isyq (cinta), fana (hapusnya diri/nafs yang rendah), baqa (rasa hidup kekal dalam Yang Satu), ma’rifa (makrifat) dan ittihad (perasan mistikal), serta kasyf ( tersingkapnya penglihatan hati).

Kehidupan para Sufis abad ke 3-4 H merupakan kritik terhadap kemewahan hidup para penguasa dan kecenderungan orientasi hidup masyarakat muslim pada materialisme. Keadaan politik yang penuh ketegangan juga memberikan peran bagi pertumbuhan sufisme dan tariqah di abad ke 12-13 M juga tidak lepas dari dinamika sosio-politik dunia Islam.

A. Arti Tariqah/ Tarekat

Kata al-tariqah berarti jalan, sinonim dengan kata suluk. Maksudnya ialah jalan kerohanian. Tariqah/ tarekat kemudian ditakrfkan sebagai’ Jalan kerohanian yang muncul disebabkan pelaksanaan syariat agama, karena kata syar (dari kata syariat berasal) berarti jalan utama, sedang cabangnya ialah tariq (darimana kata tariqa berasal).’ Pengertian di atas menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh dalam ilmu tasawuf, melalui bimbingan dan latihan kerohanian dengan tertib tertentu, merupakan cabang daripada jalan yang lebih besar, yaitu Syariat. Termasuk di dalamnya ialah kepatuhan dalam melaksanakan syariat dan hukum Islam yang lain.

Para sufi dalam melihat tingkat laku kerabat dan sahabat dekat mereka tercermin perasaan dan perbuatan mereka sendiri. Apabila mereka melihat kekeliruan dalam perbuatan tetangga mereka, maka mereka segera bercermin ke dalam perbuatan mereka sendiri. Kebiasaan di atas mendorong munculnya salah satu aspek penting gerakan tasawuf, yaitu persaudaraan sufi yang didasarkan atas cinta dan saling bercermin pada diri sendiri. Persaudaraan sufi inilah yang kemudian disebut Tarekat Sufi.

Munculnya tarekat membuat tasawuf berbeda dari gerakan zuhud yang merupakan cikal bakal tasawuf. Apabila gerakan zuhud mengutamakan ‘penyelamatan diri’ melalui cara menjauhkan diri dari kehidupan serba duniawi dan memperbanyak ibadah serta amal saleh, maka tasawuf sebagai organisasi persaudaraan (tariqah) menekankan pada ‘keselamatan bersama’. Di antaranya dalam bentuk pemupukan kepentingan bersama dan keselamatan bersama yang disebut ithaar. Sufi yang konon pertama kali mempraktekkan ithaar ialah Hasan al-Nuri, sufi abad ke-9 M dari Baghdad. Tarekatnya merupakan salah satu tarekat sufi awal dalam sejarah.

B. Kanqah dan Zawiyah

Biasanya sebuah persaudaraan sufi lahir karena adanya seorang guru Sufi yang memiliki banyak murid atau pengikut. Pada abad ke-11 M persaudaraan sufi banyak tumbuh di negeri-negeri Islam. Mula-mula ia merupakan gerakan lapisan elit masyarakat Muslim, tetapi lama kelamaan menarik perhatian masyarakat lapisan bawah. Pada abasd ke-12 M banyak orang Islam memasuki tarekat-tarekat sufi. Pada waktu itu kegiatan mereka berpusat di kanqah, yaitu sebuah pusat latihan Sufi yang banyak terdapat di Persia dan wilayah sebelah timur Persia. Kanqah bukan hanya pusat para Sufi berkumpul, tetapi juga di situlah mereka melakukan latihan dan kegiatan spiritual, serta pendidikan dan pengajaran formal, termasuk dalam hal kepemimpinan.

Salah satu fungsi penting lain dari kanqah ialah sebagai pusat kebudayaan dan agama. Sebagai pusat kebudayaan dan agama, lembaga kanqah mendapat subsidi dari pemerintah, bangsawan kaya, saudagar dan organisasi/perusahaan dagang. Tempat lain berkumpulnya para Sufi ialah zawiyah, arti harafiahnya sudut. Zawiyah ialah sebuah tempat yang lebih kecil dari kanqah dan berfungsi sebagai tempat seorang Sufi menyepi. Di Jawa disebut pesujudan, di Turki disebut tekke (dari kata takiyah, menyepi).

Tempat lain lagi berkumpulnya Sufi ialah ribat. Ribat punya kaitan dengan tempat tinggal perajurit dan komandan perang, katakanlah sebagai tangsi atau barak militer. Pada masa berkecamuknya peperangan yang menyebabkan orang mengungsi, dan juga berakibat banyaknya tentara tidak aktif lagi dalam dinas militer, membuat ribat ditinggalkan tentara dan dirubah menjadi tempat tinggal para Sufi dan pengungsi yang mengikuti perjalanan mereka.

Dinamika Kehidupan Masyarakat Memahami sufisme Islam

Dunia Timuar yang telah lama menjadi perhatian banyak kalangan memang menarik untuk di telaah dan dilakukan kajian terhadapnya. Di samping menjadi kawasan yang asing dan baru bagi banyak kalangang pengkaji yang kemudian dikenal dengan orientalis, dunia Timur memang memunculkan banyak dinamika dalam masyarakatnya yang kemudian menciptakan semacam blok-blok atau kelompok-kelompok yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat di mengerti karena kawasan ini merupakan tempat lahir dan tumbuhnya beragam agama dan aliran yang hingga saat ini ada dalam masyarakat di seluruh dunia. Agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya tumbuh dan berkembang di wilayah ini.

PENGERTIAN SUFISME

Untuk mengetahui sesuatu yang ingin diketahui, tidak lengkap rasanya jika tidak mengetahui terlebih dahulu pengertian yang dipahami oleh beberapa kalangan mengenai sesuatu tersebut. Dalam konteks ini pula penulis akan memaparkan terlebih dahulu pengertian yang biasa dipahami oleh orang-orang mengenai sufisme atau aspek mistisisme yang ada dalam Islam menurut pandangan mereka.

Pengertian pertama memahami sufisme sebagai suatu cara yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana mensucikan diri manusia, menjernih tingkah lakunya, dan membangun aspek lahir dan batinnya agar kemudian berujung pada pencapaian kebahagian yang abadi[]. Sementara pengertian kedua memaknai sufisme sebagai salah satu dimensi dari beragam dimensi keagamaan dalam Islam yang dimaksud untuk menyelami relung terdalam dalam aspek religiusitas keislaman. Sedangkan pengertian ketiga lebih melihat eksistensi sufisme pada tujuannya, yaitu untuk memperoleh hubungan langsung (direct relation) dan secara sadar dengan Tuhan sehingga dengan demikian intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi.[] Pengertian keempat memaknai sufisme sebagai paham mistik dalam Islam sebagaimana Taoisme yang ada di Tiongkok dan Yoga di India dan yang terakhir, sufisme dipahami sebagai aliran kerohanian mistik yang ada dalam Islam.[]

Sementara itu, seperti halnya pengertian sufisme yang mengalami perbedaan, pemahaman mengenai asal mula penamaan tasawuf yang merupakan nama lain dari sufisme juga terjadi perbedaan di kalangan para ahli. Menurut Nasution, penamaan tasawuf untuk menyebut aspek mistisisme dalam Islam berasal dari kata shūfi yang digunakan pertama kali oleh seorang asketik (zāhid) bernama Abū Hāsyim al-Khūfi di Irak. Di lain pihak ada yang menyebutkan bahwa penamaan tasawuf tersebut berkaitan dengan pakaian yang digunakan oleh para pelakunya (zāhid) yang menunjukkan pada kesederhanaan, yaitu berupa wol kasar yang dalam bahasa Arab disebut dengan shūf.[] Sedangkan di sisi lain ada yang mengatakan bahwa penamaan aspek mistisisme dalam Islam dengan sufisme karena merujuk pada suatu kelompok masyarakat miskin yang ada di Madinah di masa Nabi Muhammad. Orang-orang miskin ini tinggal di emperan Masjid Nabawi yang kemudian oleh para sahabat dikenal sebagai ahlu as-suffah. Selain itu, sebagian pihak menganggap bahwa penamaan tasawuf berasal dari kata shaf pertama dalam shalat berjamaah yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam ajaran Islam sebagaimana juga dengan tasawuf (sufisme) yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Namun demikian, jika pendapat-pendapat di atas melihat bahwa penamaan tasawuf bersumber dari dalam Islam sendiri, maka ada juga pihak lain yang menganggap bahwa penamaan tersebut berasal dari luar Islam. Kalangan ini beranggapan bahwa penamaan aspek mistisisme dalam Isla dengan sufisme atau tasawuf merupakan aktualisasi dari terjadinya persentuhan antara Islam dengan budaya Yunani. Sebagaimana diketahui bahwa setelah Islam tersebar luas hingga mencapai kawasan-kawasan luar Arab, terjadi persentuhan dan persinggungan dengan budaya-budaya atau tradisi-tradisi yang ada dalam masyarakat wilayah tersebut. Salah satu persentuhan tersebut adalah dengan budaya Yunani yang memang diyakini memiliki sisi filosofis yang agung dan tinggi. Dengan demikian, menurut keyakinan para pengusung pemikiran ini, sufisme atau tasawuf berasal dari kata sophos (hikmat) yang kemudian ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi s bukan shad.[]

Sejarah Sufisme

Untuk melacak asal mula sufisme secara pasti terdapat hambatan dan kesulitan yang menghadang para ahli untuk melakukannya. Hambatan yang mengemuka terutama berkaitan dengan ketiadaan tulisan atau informasi masa lalu yang secara pasti dan jelas mengungkapkannya. Namun demikian, beberapa pihak mencoba memaparkan sejumlah teori yang diharapkan dapat menjawab sejumlah pertanyaan mengenai asal mula adanya sufisme dalam Islam yang terus menggelayut dalam benak banyak ahli. Jika dirunut secara berurutan, setidaknya terdapat lima pendapat yang diketengahkan berkaitan dengan sejarah sufisme dalam Islam.

Pertama, sejarah sufisme dalam Islam berawal dari keterpengaruhan Islam terhadap Kristen yang telah ditaklukkan di wilayah-wilayah sebelumnya menjadi basis agama yang juga disebut Nasrani tersebut, seperti Syiria, Mesir dan Palestina. Menurut pengusung pendapat ini, Margareth Smith, agama Kristen memiliki ajaran yang menganjurkan para pemeluknya untuk menjauhi kehidupan dunia dengan cara mengasingkan diri dalam biara-biara. Ajaran inilah yang kemudian diadopsi oleh oleh apa yang kemudian dikenal dengan sufisme yang kala itu masih miskin dengan ajaran-ajaran dan dijadikan salah satu media yang digunakan seorang penganut sufisme dalam menjalankan aktivitasnya.[]

Kedua, asal mula sufisme karena pengaruh dari filsafat mistik Pytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia adalah kekal dan berada di dunia sebagai roh orang asing. Roh terpenjara dalam badan jasmani dan untuk memperoleh kesenangan hidup, maka manusia harus mensucikan roh dengan meninggalkan hidup materi melalui sarana zuhd dan dilanjutkan dengan kontemplasi. Ketiga, adanya sufisme karena filsafat emanasi Plotimus yang mengatakan bahwa wujud yang ada ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa dan roh berasal dari dan akan kembali kepada-Nya. Di saat materi memasuki roh, maka ia menjadi kotor dan sebelum kembali kepada pemiliknya maka harus dibersihkan dengan cara meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan serta bersatu dengan-Nya. Keempat, kemunculan sufisme karena ajaran Buddha dengan ajaran nirwananya atau surga dalam literatur agama samawi. Menurut salah satu ajaran inti Buddha ini, jika seseorang ingin mencapai nirwana maka ia harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, kemunculan sufisme dalam Islam karena dipengaruhi oleh Hindu berupa ajaran Upanishad dan Vedanta yang mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan dengan Atman dengan Brahman.[]

Inilah kelima teori yang dikemukakan oleh sejumlah ahli untuk menjawab kegelisahan mengenai asal mula timbulnya sufisme. Namun demikian jika diperhatikan, kelima teori yang dipaparkan di atas mengatakan bahwa kemunculan sufisme dalam Islam karena pengaruh dari luar Islam, seperti Kristen; filsafat mistik Pytagoras; filsafat emanasi Plotimus; ajaran Nirwana Buddha; dan ajaran Upanishad dan Vedanta Hindu. Apakah memang demikian?. Apakah dalam Islam tidak memiliki ajaran yang mengajak pemeluknya untuk melakukan hal-hal seperti yang ada dalam ajaran sufisme?. Pertanyaan ini penting dilakukan kajian karena sebagai agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dari persoalan-persoalan yang kecil hingga masalah-masalah yang besar serta dunia dan akhirat, sangat tidak mungkin tidak memiliki secuil saja ajaran atau anjuran sebagaimana yang ada dalam ajaran yang diusung oleh sufisme.

Jika dicermati secara mendetail dan seksama, sebenarnya ajaran-ajaran Islam memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan eksistensi sufisme. Melalui beberapa ayat dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW sebagai dua tuntunan utama setiap muslim dalam menjalani kehidupannya akan tampak bahwa Islam memiliki ajaran tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi ajaran dari sufisme. Dari al-Qur’an akan dicontohkan tiga ayat yang dapat dipahami dan dimaknai sebagai ajaran inti dari sufisme, yaitu:

1. Q.s. al-Baqarah, 186 :

وإذا سألك عبادى عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوالي وليؤمنوابي لعلهم يرشدون

Dari ayat ini menyiratkan suatu pemahaman bahwa manusia sebagai salah satu makhluknya adalah sangat dekat dengan Tuhan sebagai penciptanya.

2. Q.s. al-Baqarah, 115 :

ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجـه الله إن الله واسع عليـم

Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Tuhan sebagai penguasa alam semesta ini berada dan dapat dijumpai di mana saja.

3. Q.s. Qāf, 16 :

ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسـه ونحن أقرب إليه من حبل الوريـد
Ayat ini mengungkapkan bahwa Tuhan itu sebenarnya ada dalam diri manusia dan bukan berada di luarnya.

4. Q.s. al-Anfāl, 17 :

فلم تقتـلوهم ولكن الله قتلهـم ومـا رميت إذ رميت ولكن الله رمى

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia dan Tuhan dapat mengalami penyatuan dalam satu tubuh.

Sedangkan ajaran Islam yang bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan sufisme, yaitu : “Orang yang mengetahui dirinya, maka ialah orang yang mengetahui Tuhannya” dan sebuah hadits Qudsi :

كنت كنذا مخفيـا فأحببت أن أعرف فخـلقت الخـلق فبي عرفـواني

Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan melalui Aku mereka mengenal Aku”.

ISLAM, IMAN DAN IHSAN

MENGENAL ISLAM

Islam, ialah berserah diri kpd Allah dgn tauhid dan tunduk kpd-Nya dgn penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari peruntukan syirik dan orang-orang yg beruntuk syirik.

Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.

I. Tingkatan Islam

Adapun tingkatan Islam, rukun ada lima :

Syahadat (pengakuan dgn hati dan lisan) bahwa “Laa Ilaaha Ilallaah” (Tiada sesembahan yg haq selain Allah) dan Muhammad ialah Rasulullah.
Mendirikan shalat.
Mengeluarkan zakat.
Shiyam pada bulan Ramadhan.
Haji ke Baitullah Al-Haram.

II. Tingkatan Iman.

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yg paling tinggi ialah syahadat “Laa Ilaaha Ilallaah”, sedang cabang yg paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu ialah salah satu dari cabang Iman.

Rukun Iman ada enam, yaitu :

Iman kpd Allah.
Iman kpd para Malaikat-Nya.
Iman kpd Kitab-kitab-Nya.
Iman kpd para Rasul-Nya.
Iman kpd hari Akhirat, dan
Iman kpd Qadar, yg baik dan yg buruk. (Qadar : takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu : Iman bahwa segala sesuatu yg terjadi di dalam semesta ini ialah diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Iman Bertambah dan Berkurang

Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pegertian sendiri-sendiri, namun jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup yang lainnya. Iman dikatakan dapat bertambah dan berkurang, namun tidaklah dikatakan bahwa Islam bertambah dan berkurang, padahal hakikat keduanya adalah sama. Hal ini disebabkan karena adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh. Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang, namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin). Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.

III. Tingkatan Ihsan.

Ihsan, rukun hanya satu, yaitu :

Artinya Beribadah kepada Allah SWT dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tdk melihat-Nya, maka sesungguh Dia melihatmu”. Pengertian Ihsan tersebut ialah penggalan dari hadits Jibril, yg dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, sebagaimana akan disebutkan

Dalilnya, firman Allah Ta’ala.

“Sesungguh Allah bersama orang-orang yg bertakwa dan orang-orang yg beruntuk ihsan”. [An-Nahl : 128]

Dan firman Allah Ta’ala.

“Dan bertakwallah kpd (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayg. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yg sujud. Sesunnguh Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Asy-Syu’araa : 217-220]

Serta firman-Nya.

“Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yg kamu baca, serta pekerjaan apa saja yg kamu kerjakan, tdk lain kami ialah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”. [Yunus : 61]

Adapun dalil dari Sunnah, ialah hadits Jibril yg masyhur, yg diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. “Arti : Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuh tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorang pun di antara kami yg mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dgn menyandarkan kelutut pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam’, maka beliau menjawab :’Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yg haq selain Allah serta Muhammad ialah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’. Lelaki itu pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kata Umar :’Kami merasa heran kepadanya, ia berta kpd beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : ‘Beritahulah aku tenatng Iman’. Beliau menjawab :’Yaitu : Beriman kpd Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kpd Qadar yg baik dan yg buruk’. Ia pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kemudian ia berkata : ‘Beritahullah aku tentang Ihsan’. Beliau menjawab : Yaitu : Beribadah kepada Allah SWT dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tdk melihat-Nya, maka sesungguh Dia melihatmu’. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : ‘Orang yg dia tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya’. Akhir ia berkata :’Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu’. Beliau menjawab : Yaitu : ‘Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuan dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yg tinggi’. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yg lama, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yg bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : ‘Dia ialah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”.

SIMPULAN

Islam sebagai agama bisa dilihat dari berbagai dimensi, sebagai keyakinan, sebagai ajaran dan sebagai aturan. Apa yang diyakini oleh seorang muslim, boleh jadi sesuai dengan ajaran dan aturan Islam, boleh jadi tidak, karena proses seseorang mencapai suatu keyakinan berbeda-beda, dan kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga berbeda-beda.

Diantara penganut satu agama bisa terjadi pertentangan hebat yang disebabkan oleh adanya perbedaan keyakinan. Sebagai ajaran, agama Islam merupakan ajaran kebenaran yang sempurna, yang dating dari Tuhan Yang Maha Benar. Akan tetapi manusia yang pada dasarnya tidak sempurna tidak akan sanggup menagkap kebenaran yang sempurna secara sempurna.kebenaran bisa didekati dengan akal (masuk akal), bisa juga dengan perasaan (rasa kebenaran). Kerinduan manusia terhadap kebenaran ilahiyah bagaikan api yang selalu menuju keatas. Seberapa tinggi api menggapai ketinggian dan seberapa lama api itu bertahan menyala bergantung pada bahan baker yang tersedia pada setiap orang. Ada orang yang tak pernah berhenti mencari kebenaran, ada juga yang tak tahan lama, ada orang yang kemampuannya menggapai kebenaran sangat dalam (atau tinggi), tetapi ada yang hanya bisa mencapai permukaan saja.

Agama Islam sebagai aturan atau sebagai hukum dimaksud untuk mengatur tata kehidupan manusia. Sebagai aturan, agama berisi perintah dan larangan, ada perintah keras (wajib) dan larangan keras (haram), ada juga perintah anjuran (sunnat) dan larangan anjuran (Makruh). Sumber hukum dalam Islam adalah Al-Qur’an, tetapi hanya mengatur secara umum, karena Al-Qur’an di peruntukkan bagi semua manusia sepanjang zaman dan di seluruh pelosok dunia.

Detail hukum kemudian dirumuskan denga Ijtihad. Karena sifatnya yang regional dan “Menzaman” maka fatwa hukum bisa berbeda-beda, ada yang menganggap bahwa hasil ijtihadnya itu sebagai hukum Tuhan, dan ada yang menganggap bahwa dalam hal detail tidak ada hukum Tuhan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!